Kamis, 12 Februari 2009

Dasar etik dan moral profesi kedokteran

Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik-buruk atau benar-salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian baik-buruk dan benar-salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontologi dan teleologi. Deontologi mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri (I Kant), sedangkan teleologi mengajarkan untuk melihat hasilnya atau akibatnya (D Hume, J Bentham, JS Mills). Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan teleologi lebih ke arah penalaran (reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat (aliran utilitarian).
Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa rules di bawahnya. Ke-4 kaidah dasar moral tersebut adalah:
1. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination). Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed consent;
2. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya (mudharat);
3. Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non nocere” atau “above all do no harm”;
4. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice).
Sedangkan rules derivatnya adalah veracity (berbicara benar, jujur dan terbuka), privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping).
Selain prinsip atau kaidah dasar moral di atas yang harus dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan klinis, profesional kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct). Sebagaimana diuraikan pada pendahuluan, nilai-nilai dalam etika profesi tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran. Sumpah dokter berisikan suatu “kontrak moral” antara dokter dengan Tuhan sang penciptanya, sedangkan kode etik kedokteran berisikan “kontrak kewajiban moral” antara dokter dengan peer-groupnya, yaitu masyarakat profesinya.
Baik sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah kewajiban moral yang melekat kepada para dokter. Meskipun kewajiban tersebut bukanlah kewajiban hukum sehingga tidak dapat dipaksakan, namun kewajiban moral tersebut haruslah menjadi “pemimpin” dari kewajiban dalam hukum kedokteran. Hukum kedokteran yang baik haruslah hukum yang etis.

Dampak perkembangan ilmu kedokteran
Ilmu kedokteran adalah ilmu empiris dan bukan ilmu eksakta, dalam arti bahwa dalam membuat suatu kesimpulan deduktif ataupun induktif, ilmu kedokteran membutuhkan pengalaman-pengalaman yang disusun dengan menggunakan metode pengumpulan dan pengolahan data secara ilmiah (evidence based). Metode ini mengakibatkan pengambilan suatu kesimpulan selalu memiliki peluang terjadinya bias dan peluang adanya “fakta” yang belum diketahui karena belum adanya pengalaman. Konsekuensi logisnya adalah bahwa tingkat kepastian dalam ilmu kedokteran disusun dalam bentuk probabilitas – bukan kepastian sebagaimana di dalam ilmu matematis. Kalangan hukum menganggap adanya “reasonable medical certainty” yang diartikan sebagai kepastian yang “cukup meyakinkan”, sebagaimana juga di bidang hukum dikenal sebagai “beyond reasonable doubt”.
Mengingat sifat keilmuan tersebut di atas maka muncullah doktrin hubungan dokter-pasien yang bersifat kontrak berdasar upaya (inspanningsverbintennis) dan bukannya kontrak berdasar hasil. Keberhasilan suatu tindakan medik tidak hanya bergantung kepada kompetensi dokter dan stafnya, melainkan juga bergantung kepada ketersediaan peralatan dan waktu, keadaan penyakitnya, faktor-faktor lingkungan, kepatuhan pasien, serta faktor konstitutif pasien itu sendiri. Perlu diingat bahwa tidak semua faktor tersebut dapat dikendalikan oleh dokter dan stafnya.
Ilmu kedokteran juga bukan ilmu yang stagnan, melainkan dinamis dan selalu bergerak cepat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan situasi perekonomian yang juga bergerak cepat. Kebenaran saat ini belum tentu tetap sebagai kebenaran di esok hari, demikian pula standar yang berlaku saat ini belum tentu masih berlaku beberapa waktu kemudian. Standar pelayanan medis bukanlah standar yang kaku, melainkan standar yang fleksibel.
Layanan kedokteran adalah suatu sistem yang kompleks dengan sifat hubungan antar komponen yang ketat (complex and tightly coupled), khususnya di ruang gawat darurat, ruang bedah, obstetrik dan ruang rawat intensif. Sistem yang kompleks umumnya ditandai dengan spesialisasi dan interdependensi. Dalam suatu sistem yang kompleks, satu komponen dapat berinteraksi dengan banyak komponen lain, kadang dengan cara yang tak terduga atau tak terlihat. Semakin kompleks dan ketat suatu sistem akan semakin mudah terjadi kecelakaan (prone to accident), oleh karena itu praktik kedokteran haruslah dilakukan dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi.
Setiap tindakan medis mengandung risiko buruk, sehingga harus dilakukan tindakan pencegahan ataupun tindakan mereduksi risiko. Namun demikian sebagian besar diantaranya tetap dapat dilakukan oleh karena risiko tersebut dapat diterima (acceptable) sesuai dengan “state-of-the-art” ilmu dan teknologi kedokteran. Risiko yang dapat diterima adalah risiko-risiko sebagai berikut:
1. Risiko yang derajat probabilitas dan keparahannya cukup kecil, dapat diantisipasi, diperhitungkan atau dapat dikendalikan, misalnya efek samping obat, perdarahan dan infeksi pada pembedahan, dll.
2. Risiko yang derajat probabilitas dan keparahannya besar pada keadaan tertentu, yaitu apabila tindakan medis yang berrisiko tersebut harus dilakukan karena merupakan satu-satunya cara yang harus ditempuh (the only way), terutama dalam keadaan gawat darurat.
3. Risiko yang tidak dapat diprediksikan / dibayangkan sebelumnya, sebagai hasil dari “ketidakpastian ilmu kedokteran”, yaitu unforeseeable risk.
Terjadinya kedua risiko pada butir 1 dan 2 di atas bukan menjadi tanggungjawab hukum dokter apabila telah diinformasikan kepada pasien dan/atau keluarganya dan kemudian memperoleh persetujuannya (doktrin informed consent, volenti non fit injuria). Risiko pada butir 3 juga bukan menjadi tanggungjawab dokter oleh karena ilmu kedokteran memang tidak dapat melakukan tindakan “pencegahan” terjadinya risiko yang tidak dapat diduga sebelumnya. Namun demikian, Informed consent tidak melindungi dokter dari terjadinya hasil buruk akibat suatu kelalaian ataupun suatu perbuatan melanggar hukum lainnya.
Perkembangan dunia kedokteran di tingkat nasional tidak dapat dipisahkan dari perkembangan di tingkat dunia. Sebagai akibatnya adalah harapan masyarakat akan keberhasilan layanan kedokteran juga meningkat sejalan dengan harapan yang sama di tingkat dunia. Sementara itu, kemampuan dunia kedokteran nasional dalam mengikuti perkembangan kedokteran di dunia sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi perekonomian dan teknologi. Dengan demikian standar profesi yang berlaku di dunia internasional seringkali disimpangi dalam praktik kedokteran nasional, atau berarti berbeda dengan standar profesi di tingkat nasional.
Keputusan etik pada kasus-kasus kritis di suatu negara seringkali juga menimbulkan sikap pro dan kontra yang meluas di tingkat dunia. Sebagai contoh adalah kasus Terri Schiavo, penderita persistent vegetative state selama 15 tahun, yang menjalani euthanasia atas permintaan suaminya yang disetujui oleh pengadilan. Dunia memang tidak seluruhnya sependapat dengan putusan pengadilan tersebut, dan setidaknya sikap moral yang “menang” pada kasus tersebut telah menantang sikap moral membela kehidupan yang selama ini dianut dunia kedokteran. Sebagian para ahli etik yang pro-putusan pengadilan mencari alasan pembenar dari segi moral, sedangkan mereka yang kontra mengemukakan bahwa tindakan tersebut adalah pembunuhan.

Menyikapi masalah dan pelanggaran etik
Masalah etik yang dihadapi manajemen ataupun para profesional klinik yang bersifat prospektif sebaiknya dibahas di dalam Komite Etik di rumah sakit apabila ada atau setidaknya di dalam Komite Klinik. Di Amerika Serikat umumnya terdapat Komite Etik di setiap rumah sakit yang didirikan untuk memecahkan masalah-masalah etik yang dihadapi, baik oleh manajemen (etik institusi) maupun oleh para profesional kliniknya (etika profesi). Selain peran ethical decision making di atas, Komite Etik di dalam rumah sakit juga berperan di bidang pendidikan, kebijakan alokasi sumber daya, komitmen institusi, formulasi kebijakan, diskusi multidisiplin, dan konsultasi.
Pada dasarnya, suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar “hanya” akan membawa akibat sanksi moral bagi pelanggarnya. Namun suatu pelanggaran etik profesi dapat dikenai sanksi disiplin profesi, dalam bentuk peringatan hingga ke bentuk yang lebih berat seperti kewajiban menjalani pendidikan / pelatihan tertentu (bila akibat kurang kompeten) dan pencabutan haknya berpraktik profesi. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK setelah dalam rapat/sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi) kedokteran.
IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan penilaian pelaksanaan etik profesi, yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat, wilayah dan cabang, serta lembaga MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran) di tingkat pusat, wilayah dan cabang. Selain itu, di tingkat sarana kesehatan (rumah sakit) didirikan Komite Medis (atau Komite Klinik) dengan Panitia Etik di dalamnya, yang akan mengawasi pelaksanaan etik dan standar profesi di rumah sakit. Bahkan di tingkat perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit (Makersi).
Proses persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan terpisah dari proses persidangan gugatan perdata atau tuntutan pidana oleh karena domain dan jurisdiksinya berbeda. Persidangan etik dan disiplin profesi dilakukan oleh badan-badan tersebut di atas, sedangkan gugatan perdata dan tuntutan pidana dilaksanakan di lembaga pengadilan di lingkungan peradilan umum. Dokter tersangka pelaku pelanggaran standar profesi (kasus kelalaian medik) dapat diperiksa oleh majelis etik, dapat pula diperiksa di pengadilan – tanpa adanya keharusan saling berhubungan di antara keduanya. Seseorang yang telah diputus melanggar etik oleh majelis etik belum tentu dinyatakan bersalah oleh pengadilan, demikian pula sebaliknya.
Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa melanggar norma hukum) di sebuah rumah sakit, maka ia akan dipanggil dan disidang oleh Komite Klinik rumah sakit tersebut (cq Panitia Etik bila ada) untuk dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin profesi)nya. Persidangan Komite Klinik di satu sisi (internal) bertujuan untuk menjaga akuntabilitas, profesionalisme, keluhuran profesi dan mempertahankan etik institusi, sekaligus untuk mengembangkan keselamatan pasien. Di sisi lain (eksternal), persidangan Komite Klinik juga dapat dimanfaatkan untuk membuat pertimbangan bagi dibuatnya keputusan Manajemen tentang apa yang akan dilakukan dalam rangka menyelesaikan sengketanya dengan pasien.
Pembahasan dari sisi profesi ditujukan untuk menjadikannya sebagai pelajaran guna mencegah terjadinya pengulangan di masa mendatang, baik oleh pelaku yang sama ataupun oleh pelaku lain. Dalam proses tersebut dapat dilakukan pemberian sanksi (profesi atau administratif) untuk tujuan penjeraan, dapat pula tanpa pemberian sanksi – tetapi memberlakukan koreksi atas faktor-faktor yang berkontribusi sebagai penyebab terjadinya “kasus” tersebut. Penyelesaian secara profesi umumnya lebih bersifat audit klinis, dan dilakukan dalam rapat Komite Klinik, konferensi kematian, presentasi kasus, audit klinis terstruktur, proses lanjutan dalam incident report system, dll), namun pemberian sanksi hanya dapat diberikan dalam suatu Rapat Komite Klinik khusus untuk itu. Pembahasan sisi profesi juga dapat dilakukan di tingkat yang lebih tinggi, misalnya dalam sidang Dewan Etik Perhimpunan Spesialis, MKEK, Makersi, MDTK, dll.
Dalam menghadapi persidangan Komite Klinik tersebut, dokter yang diduga melakukan pelanggaran etik harus membuat catatan tentang kronologi peristiwa dan menjelaskan alasan masing-masing tindakannya, dan menandatanganinya (semacam pernyataan affidavit). Hal ini bisa dicapai apabila ia memiliki dokumen (rekam medis) yang cukup lengkap, termasuk informed consent dan catatan yang terkait. Apabila lebih dari satu orang yang terlibat dalam kasus tersebut, maka mereka harus membahasnya bersama untuk dapat saling melengkapi “jalannya ceritera” – tanpa melakukan manipulasi fakta.
Apabila tingkat potensialnya untuk menjadi kasus medikolegalnya cukup tinggi, maka sebaiknya kasus tersebut dilaporkan ke atasan (ketua KSMF) untuk dibahas bersama. Institusi kesehatan yang relatif kecil dan memiliki staf medis yang terbatas mungkin sukar membahas kasus yang “spesialistik” dengan baik, maka berupayalah untuk mengundang pakar dari organisasi profesi atau perhimpunan spesialis terkait. Dalam audit klinis tersebut dilakukan pembahasan tentang keadaan pasien, situasi-kondisi yang merupakan “tekanan”, diagnosis kerja dan diagnosis banding, indikasi medis dan kontra-indikasi, alternatif tindakan, informed consent, komunikasi, prosedur tindakan dibandingkan dengan standar, penyebab peristiwa yang menuju ke peristiwa medikolegal, penanganan peristiwa tersebut saat itu, diagnosis akhir, dan kesimpulan apakah prosedur medis dan alasannya telah dilakukan sesuai dengan situasi-kondisi.
Keseluruhan yang dilakukan di atas adalah juga merupakan langkah-langkah persiapan menghadapi komplain pasien, atau bahkan menghadapi somasi dan gugatan di kemudian hari. Di samping itu profesional terkait kasus tersebut harus melihat kembali dokumen kompetensi (keahlian) dan kewenangan medis (perijinan), serta kompetensi / kewenangan medis khusus (dokumen pelatihan/workshop, pengakuan kompetensi, pengalaman, dll) yang berkaitan dengan kasus.
Kepada pasien dan/atau keluarganya harus diberikan penjelasan yang memuaskan tentang terjadinya peristiwa tersebut, penyebabnya atau kemungkinan penyebabnya, tindakan yang telah dilakukan untuk mencegah atau mengatasinya, tindakan yang masih diperlukan, dan peluang kesembuhannya di masa mendatang. Apabila pasien meninggal dunia, maka penjelasan tentang sebab kematian yang cukup rinci diperlukan. Keberhasilan penjelasan ini sangat bergantung kepada kualitas penjelasan yang telah diberikan sewaktu memperoleh informed consent. Keluhan atau komplain pasien dan/atau keluarganya harus direspons dengan segera dan adekuat. Alangkah lebih baik apabila penjelasan dilakukan oleh tim dokter terkait didampingi oleh salah seorang direktur dan wakil dari Komite Klinik.
Apabila di kemudian hari datang somasi, maka segeralah berkonsultasi dengan manajemen dan Komite Klinik serta penasehat hukum terkait. Tenaga medis dan staf lain yang terlibat pada kasus tersebut haruslah berada dalam satu pihak yang solid dengan rumah sakit agar tidak mudah digoyang oleh pihak penuntut. Suatu pertemuan dan penjelasan yang adekuat seringkali dapat meredakan permasalahan. Tidak sedikit yang berlanjut ke pembicaraan tentang “kompensasi” finansial di luar pengadilan. Cara tersebut dirasakan cukup efektif untuk mencegah kasus ke pengadilan yang membawa berbagai dampak. Proses di pengadilan dianggap telah merusak citra pofesional, mengganggu bisnis, berbiaya tinggi dan makan waktu lama. Namun, sebagian kecil kasus mungkin masih akan maju ke pengadilan.
Tidak jarang, sebagaimana akhir-akhir ini sering terjadi, pasien dan kuasanya mengungkapkan kasusnya kepada publik melalui media massa – dilihat dari sisi mereka dengan persepsi mereka sendiri. Tulisan, tayangan atau pernyataan yang sangat menyudutkan rumah sakit atau menyesatkan persepsi masyarakat sebaiknya segera direspons oleh rumah sakit dengan memberikan informasi yang adekuat tanpa harus membuka rahasia kedokteran.



Kesimpulan
Etik kedokteran memberikan pedoman bagi profesional medis dalam membuat keputusan klinis yang etis dan dalam bersikap dan berperilaku.
Ajaran patient safety mengharuskan kepada rumah sakit untuk mengelola risiko yang dihadapi pasien sedemikian rupa sehingga risiko medis yang dapat mengganggu keselamatan pasien ditekan sekecil-kecilnya, melalui berbagai program yang diselenggarakan oleh manajemen dan komite klinik.
Penanganan masalah pelanggaran etik kedokteran dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sisi pembinaan dalam rangka menuju akuntabilitas profesionalisme, sekaligus pada sisi lainnya dalam rangka menyelesaikan sengketa secara efektif dan efisien.

Kepustakaan Lanjutan
AHRQ’s Patient Safety Initiatives. http://www.ahrg.gov
Bayles MD. Professional Ethics. Belmont : Wadsworth Inc, 1981.
Beauchamp TL and Childress JF. Principles of Biomedical Ethics. 3rd ed. New York: Oxford University Press, 1989
Carroll R (ed). Risk Management Handbook for health care organizations. San Fransisco: Jossey-Bass, 2001
Kohn LT, Corrigan JM, Donaldson MS (eds). To Err is Human, building a safer health system. Washington: National Academy Press, 2000
Leenen H, Gevers S, Pinet G. The Rights of Patients in Europe. Deventer : Kluwer Law and Taxation Publ, 1993
Lens P and vander Wal G. Problem Doctors, a conspiracy of silence. Amsterdam:Jos Press, 1997
Mann A. Medical Negligence Litigation, Medical Assessment of Claims. Redfern: International Business Communications Pty Ltd, 1989.
Mappes T.A. and Zembaty JS. Biomedical Ethics. New York: McGraw-Hill Book Company, 1981
McNair T. Medical Negligence. BBC Health, 28 January 2002.
Pozgar GD. Legal Aspects of Health Care Administration. 8th ed, Gaithersburg: An Aspen Publication, 2002
Schutte JE. Preventing Medical Malpractice Suits. Seattle: Hogrefe & Huber Publ, 1995
Tan SY. The Medical Malpractice Epidemic in Singapore: Thoughts From Across the Sea. Singapore: Medico-legal Annual Seminar, 27-28 October 2001.
Veatch RM. Medical Ethics. 2nd ed. Boston : Jones and Bartlett Publ, 1997.
Vincent C, Ennis M and Audley RJ. Medical Accident. Oxford: Oxford University Press, 1993.
WMA. Statement on Medical Malpractice, adopted by the 4th World Medical Assembly, Marbella, Spain, September 1992

makalah cdrg

PERAN DAN KINERJA SISTEM SARAF OTONOM
DALAM TUBUH MANUSIA


Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan
Tugas Mata Kuliah Fisiologi Pada
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember

DISUSUN OLEH :
Amalia Damayanti,cdrg 081610101085
Eka Irena Akbar,cdrg 081610101088
Dian Rosita R,cdrg 081610101104
Yeni Sugiarto,cdrg 081610101110


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
NOVEMBER, 2008

DAFTAR ISI

Halaman Judul................................................................................................ i
Daftar Isi.......................................................................................................... ii
Daftar Lampiran.............................................................................................

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................. 1
1.2 Tujuan........................................................................................................... 1
II. TINJAUAN KEPUSTAKAAN.................................................................. 2
III. PEMBAHASAN
3.1 Sistem saraf ................................................................................................... 3
3.1.1 Sistem saraf pusat....................................................................................... 3
3.1.1 Sistem saraf tepi.......................................................................................... 7
3.1.1.1. Sistem saraf somatik................................................................................ 7
3.1.1.2. Sistem saraf otonom................................................................................ 7

IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan................................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistern ini meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Contohnya otot dan kelenjar. Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf (neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan. Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson (neurit). Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin. Membran plasma sel Schwann disebut neurilemma. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls.

1.2. Tujuan
1. Mengetahui sistem saraf otonom
2. Mengetahui cara kerja dari sistem saraf otonom
3. Mengetahui bagian dari sistem saraf otonom
4. Mengetahui peranan dari sistem saraf otonom

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sistem Saraf Otonom
Sistem saraf otonom berhubungan dengan pengaturan otot jantung, otot polos pada viseral, dan kelenjar-kelenjar. Sistem saraf otonom membantu mempertahankan lingkungan dalam yang konstan dari tubuh (homeostasis). Sistem saraf otonom terdiri dari jaras aferen, eferen dan kumpulan sel saraf pada otak dan medulla spinalis yang mengatur fungsi sistem. Secara anatomis, sistem saraf otonom dibagi menjadi dua bagian dimana sebagian besar aktivitas keduanya bekerja secara berlawanan yaitusistem saraf simpatis (torakolumbal) dan parasimpatis (kraniosakral).
Sistem saraf otonom juga berhubungan dengan saraf somatik; sebaliknya, kejadian somatik dapat mempengaruhi fungsi organ otonom. Pada susunan saraf pusat terdapat beberapa pusat saraf otonom, seperti medulla oblongata terdapat pengatur pernafasan dan tekanan darah. Hipotalamus dianggap sebagai pusat susunan saraf otonom. Walaupun demikian masih ada pusat yang lebih tinggi yang dapat mempengaruhinya yaitu korpus striatum dan korteks serebrum yang dianggap sebagai koordinator antara sistem otonom dan somatik.
Organ tubuh umumnya dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis, dantonus yang terlihat merupakan hasil perimbangan kedua sistem tersebut. Sistem parasimpatis bersifat vital bagi tubuh. Sebaliknya mahluk dapat hidup setelah denervasi saraf simpatis asalkan dilindungi terhadap ancaman dari luar. Bila ada stres, makhluk yang telah didenervasi parasimpatis tersebut cenderung lebih cepat mati dibanding dengan mahluk yang sistem simpatisnya utuh.



BAB III. PEMBAHASAN

Semua kegiatan aktivitas tubuh kita seperti berjalan, menggerakkan tangan, mengunyah makanan dan lainnya, di atur dan dikendalikan oleh satu sistem yang disebut "Sistem Saraf" atau Sistem Pengatur Tubuh. Fungsi utama sistem saraf adalah mengolah informasi yang masuk melalui beberapa jalan sehingga timbul respon motorik yang cocok.

1. Susunan Sistem Saraf
Sistem Saraf terbagi atas 2 bagian yaitu :
1.1 Sistem Saraf Pusat
Sistem Saraf pusat terdiri atas Otak (latin: enceephalon) dan Sumsum (saraf) Tulang Belakang (latin: medula spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat.
1.1.1 Otak
Otak adalah bagian susunan saraf pusat yang terletak didalam cavum cranii.
Otak terbentuk dari dua jenis sel: glia dan neuron. Glia berfungsi untuk menunjang dan melingungi neuron, glia juga membantu neuron melekat pada tempatnya dan memberinya zat makanan. Sedangkan neuron membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang di kenal sebagai potensial aksi. Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter. Neurotransmitter ini dikirimkan pada celah yang di kenal sebagi sinapsis.

Bagian-Bagian Otak ada 3 bagian:
1. Otak Depan (Prosesncephalon/Forebrain)
Yang terdiri dari dua bagian: Cerebrum dan Diencephalon.
a. Cerebrum (Telencephalon):
Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak sehingga disebut juga otak besar. Terdiri atas dua hemisphere cerebri, yang dihubungkan oleh massa substansia alba yang disebut corpus callosum.
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktifitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan.
Cerebrum terdiri dari 4 bagian, yaitu:
• Lobus frontalis (bagian dahi)
• Lobus parietalis (bagian ubun-ubun)
• Lobus oksipitalis (bagian belakang)
• Lobus temporalis (bagian pelipis)
b. Diencephalon
Diencephalon terdiri dari 3 bagian, yaitu:
Thalamus
Fungsi:
• mentransmisikan informasi (pesan) dari sistem sensori kebagian cortex cerebrum.
• mempertahankan homeostasis melalui pengaturan berbagai macam aktivitas visceral dan hubungan dengan saraf dan sistem endokrin.
• sebagai penstabil sensasi yang berlebihan, dan sebagai pengatur saraf motorik.
Hypothalamus
Fungsi regulasi :
• Tekanan darah arterial dan denyut jantung
• Suhu tubuh, keseimbangan air dan elektrolit tubuh.
• Rasa lapar dan berat badan serta sexual behavior
• Regulasi temperatur tubuh, haus, lapar, sexual behavior, afektif behavior dan reaksi defensive sperti takut dan marah
• Ritme tubuh (tidur-bangun)
• Nyeri, stresful dan emosi,
• Watak kelamin, dan kadar gula dalam darah
• Pernapasan, pengeluaran urine, dan penyerapan makanan.
• Pusat integrasi sistem saraf dan sistem endokrin (Menstimulasi kelenjar hipofisis untuk menghasilkan hormon)
• Sistem saraf otonom
• Dalam keadaan stres, keseimbangan normal terganggu, hipotalamus memperbaiki ketidakseimbangan tersebut.
Sistem limbik
Fungsi :
• mengontrol respons emosi
Infudibulum
Fungsi :
• sebagai pangkal hipofisis

2. Otak tengah (mesensefalon/midbrain)
Otak tengah adalah bagian sempit otak yang menghubungkan otak depan dengan otak belakang.
Otak tengah merupakan pusat refleks, termasuk :
• Refleks penglihatan seperti pergerakan mata sesuai pergerakan kepala,
• Refleks pendengaran untuk mendengar lebih jelas,
• Refleks untuk mempertahankan postur.

3. Otak belakang (rhombencephalon/hindbrain)
Pada otak bagian belakang terdapat pons, medulla oblongata, dan cerebellum.
Jembatan varol (pons varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum tulang belakang.
Fungsi :
• Meneruskan impuls dari dan ke medulla oblongata
• Mentransmisikan impuls dari cerebri ke cerebellum
• Meneruskan impuls sensori dari perifer ke central
• Sumsum sambung (myencephalon /medulla oblongata)
Medulla oblongata berbentuk kerucut, menghubungkan pons dengan medulla spinalis (sumsum tulang belakang).
Fungsi :
• Penerima dan pengintegrasian semua input synopsis dari sumsum tulang belakang
• Sistem retikuler
• Pusat pengaturan tidur
• Pusat pernafasan (volume dan kecepatan respirasi)
• Pusat pengaturan cardiovascular (tekanan darah), detak jantung
• Pusat pengaturan sistem pencernaan (gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan)
• Mengatur gerak refleks (bersin, batuk, berkedip, menelan, muntah)
• Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak.
Cerebellum (Otak kecil / metencephalon)
Fungsi :
• Koordinasi gerakan otot (gerakan tubuh) yang terjadi secara sadar,
• Keseimbangan,
• Posisi tubuh.
• Regulasi sensor otot
• Pengaturan keseimbangan dan ukuran
• Koordinasi gerakan (otot skeletal)
• Pengontrolan pergerakan mata
• Menerima informasi dari otot dan telinga tentang sikap tubuh

1.1.2. Sumsum tulang belakang (medulla spinalis)
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu. Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor. Medulla spinalis melaksanakan fungsi refleks, suatu refleks adalah reaksi segera terhadap rangsang sensorik tanpa diolah di otak besar.

1.2. Sistem Saraf Perifer (Tepi)
Sistem Saraf Perifer, dibentuk oleh beberapa saraf yang berhubungan dengan sistem saraf pusat baik secara langsung maupun tidak langsung yang terdiri dari 12 pasang bagian tengkorak.
Sistem saraf perifer terdiri dari saraf-saraf yang menghubungkan otak dan sumsum belakang dengan bagian tubuh lainnya. Lebih lanjut sistem saraf perifer dibagi dalam sistem somatik dan sistem otonom.
1.2.1. Sistem Saraf Somatik
Sistem somatik yang mengendalikan otot skeletal dan menerima informasi dari kulit, otot, dan beberapa reseptor sensorik (membawa pesan menuju dan dari reseptor indra, otot-otot, dan permukaan tubuh).
1.2.2. Sistem Saraf Otonom
Jalur saraf otonom terdiri dari suatu rantai dua neuron,dengan neurotransmitter terakhir yang berbeda antara saraf simpatis dan parasimpatis.
Sistem saraf otonom terdiri dari sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Serat-serat saraf simpatis berasal dari daerah torakal dan lumbal korda spinalis. Sebagian serat praganglion simpatis berukuran sangat pendek, bersinaps dengan badan sel neuron pascaganglion didalam ganglion yang terdapat di rantai ganglion simpatis yang terletak di kedua sisi korda spinalis. Serat pascagangliion panjang yang berasal dari rantai ganglion itu berakhir pada organ-organ efektor. Sebagian serat praganglion melewati rantai ganglion tanpa membentuk sinaps dan kemudian berakhir di ganglion kolateral simpatis yang terletak sekitar separuh jalan antara SSP dan organ-organ yang dipersarafi, dengan saraf pascaganglion menjalani jarak sisanya.
Serat-serat praganglion parasimpatis berasal dari daerah cranial dan sacral (sebagian saraf kranialis mengandung serat parasimpatis). Serat-serat ini nerukuran lebih panjang dibandingkan dengan serat praganglion simpatis karena serat-serat itu tidak terputus sampai mencapai ganglion terminal yang terletak didalam atau dekat organ efektor. Serat-serat pascaganglion yang sangat pendek berakhir di sel-sel organ yang bersangkutan itu sendiri.
Serat-serat praganglion simpatis dan parasimpatis mengeluarkan neurotransmitter yang sama, yaitu asetilkolin,tetapi ujung-ujung pascaganglion kedua sistem ini mengeluarkan neurotransmitter yang berlainan (neurotransmitter yang mempengaruhi organ efektor). Serat-serat pascaganglion parasimpatis mengeluarkan aseilkolin. Dengan demikian, serat-serat itu bersama dengan semua serat praganglion otonom disebut sebagai kolinergik. Sebaliknya, sebagian serat pascaganglion simpatis disebut serat adrenergik karena mengeluarkan noreadrenalin (norepinefrin). Baik asetilkolin maupun norepinefrin juga berfungsi sebagai zat perantara kimiawi di bagian tubuh lainnaya.
Serat-serat otonom pascaganglion tidak berakhir pada sebuah tonjolan seperti kepala sinaps (synaptic knob). Namun, cabang-cabang terminal dari serat otonom mengandung banyak tonjolan (varicosities) yang secara simultan mengeluarkan neurotransmitter ke daerah luas pada organ yang dipersarafi dan bukan ke sebuah sel. Pelepasan neurotransmitter yang bersifat difus ini, disertai kenyataan bahwa di otot polos atau jantung setiap perubahan aktivitas listrik akan disebarkan melalui gap junction, memiliki arti bahwa keseluruhan organ biasanya dipengaruhi aktivitas otonom bukan sel satu per satu.

1.2.2.1. Sistem saraf otonom mengontrol aktivitas organ visceral involunter
Sistem saraf otonom mengatur aktivitas alat-alat dalam (visceral) yang dalam keadaan normal di luar kesadaran dan kontrol volunter, misalnya sirkulasi, pencernaan, berkeringat, dan ukuran pupil. Dengan demikian, sistem ini dianggap sebagai cabang involunter divisi eferen, berbeda dengan cabang volunter somatic,yang mempersarafi otot rangka dan dapat dikontrol secara volunter. Namun,tidak seluruhnya benar bahwa individu tidak memiliki kontrol trehadap aktivitas yang diatur oleh sistem otonom. Informasi aferen visceral biasanya tidak mencapai tingkat kesadaran, sehingga individu tidak mungkin secara sadar mengontrol keluaran eferen yang timbul. Namun, dengan teknik-teknik biofeedback individu dapat diberi suatu sinyal sadar mengenai informasi aferen visceral. Misalnya dalam bentuk suara, cahaya, atau tampilan grafik pada latar computer.
1.2.2.2 Sistem saraf sim.atis dan parasimpatis bersama-sama mempersarafi sebagian besar organ visceral
Sebagian besar organ visceral dipersarafi oleh serat saraf simpatis dan parasimpatis. Sistem saraf simpatis dan parasimpatis menimbulkan efek yang bertentangan pada organ tertentu. Stimulasi simpatis meningkatkan kecepatan denyut jantung, sementara stimulasi parasimpatis menurunkannya. Stimulasi simpatis memperlambat gerakan saluran pencernaan, sedangkan stimulasi parasimpatis meningkatkan motilitas saluran pencernaan. Perhatikan bahwa satu sistem tidak selalu bersifat eksitatorik dan yang lain inhibitorik. Kedua sistem meningkatkan aktivitas beberapa organ dan menurunkan aktivitas organ-organ yang lain.
Sistem saraf simpatis meningkatkan respons-respons yang mempersiapkan tubuh untuk melakukan aktivitas fisik yang berat dalam menghadapi situasi penuh stres atau darurat, misalnya ancaman fisik dari lingkungan luar. Respons semacam ini biasanya disebut sebagai fight or flight response, karena sistem simpatis mempersiapkan tubuh untuk melawan atau melarikan diri dari ancaman. Pikirkan tentang sumber-sumber pada tubuh yang diperlukan pada keadaan seperti ini. Jantung berdenyut lebih cepat dan lebiuh kuat, tekanan darah meningkat karena konstriksi umum pembuluh darah, saluran pernafasan terbuka lebar untuk memungkinkan aliran udara maksimal, glikogen dan simpanan lemak dipecahkan untuk menghasilkan bahan baker tambahan dalam darah, dan pembuluh-pembuluh darah yang mendarahi otot-otot rangka berdilatasi. Semua respons ini ditujukan untuk meningkatkan aliran darah yang kaya oksigen dan nutrisi ke otot-otot rangka sebagai antisipasi terhadap aktivitas fisik yang berat. Selanjutnya pupil berdilatasi dan mata menyesuaikan diri untuk melihat jauh, yang menungkinkan individu membuat penilaian visual yang cepat mengenai situasi keseluruhan yang mengancam. Terjadi peningkatan berkeringat sebagai antisipasi terhadap peningkatan produksi panas yang berlebihan akibat aktivitas fisik. Karena aktivitas pencernaan dan berkemih kurang penting dalam menghadapi ancaman,sistem simpatis menghambat aktivitas-aktivitas ini.
Sistem parasimpatis, di pihak lain mendominasi pada situasi yang tenang dan rileks. Pada keadaan-keadaan yang tidak mengancam, tubuh dapat memusatkan diri pada aktivitas “rumah tangga umum”nya sendiri, misalnya pencernaan dan pengosongan kandung kemih. Sistem parasimpatis mendorong fungsi-fungsi tubuh seperti ini, sementara memperlambat aktivitas-aktivitas yang ditingkatkan oleh sistem simpatis. Sebagai contoh, tatkala seseorang sedang dalam keadaan tenang, jantung tidak perlu berdenyut dengan cepat dan kuat.
Inhibisi sistem saraf parasimpatis oleh kokain mungkin merupakan faktor utama dalam kematian mendadak yang disebabkan oleh kelebihan dosis kokain. Apabila kokain menghambat rem parasimpatis yang bersifat protektif, sistem simpatis dapat meningkatkan kecepatan denyut jantung tanpa kendali. Kematian mendadak timbul jika denyut jantung menjadi terlalu cepat dan tidak teratur, sehingga daya pompa jantung tidak kuat.
Terdapat beberapa pengecualian terhadap sifat umum persarafan timbale balik ganda oleh kedua cabang sistem saraf otonom tersebut, yang paling menonjol adalah sebagai berikut:
• Pembuluh darah yang dipersarafi (sebagian besar arteriol dan vena dipersarafi,arteri dan kapiler tidak) hanya menerima serat saraf simpatis. Pengaturan dilakukan dengan meningkatkan atau menurunkan kecepatan pembentukan potensial aksi diatas atau dibawah tingkat tonik serat simpatis tersebut. Satu-satunga pembulh darah yang mendapat persarafan parasimpatis adalah pembuliuh darah yang mendarahi klitoris dan penis. Kontrol vaskuler yang akurat di kedua organ ini oleh persarafan ganda penting untuk menimbulkan ereksi.
• Kelenjar keringat hanya dipersarafi oleh saraf simpatis
• Kelenjar liur dipersarafi oleh kedua divisi otonom,tetapi tidak seperti di tempat lain,aktivitas simpatis dan parasimpatis tidak antagonistik.Keduanya merangsang sekresi air liur,tetapi komposisi dan volume air liur yang terbentuk berbeda,bergantung dari cabang otonom mana yang dominan.

Efek otonomik pada berbagai organ tubuh
Organ Efek Perangsang Simpatis Efek Perangsang Parasimpatis
Mata
• Pupil Dilatasi Konstriksi
• Otot siliandris Relaksasi ringan (penglihatan jauh) Konstriksi (penglihatan dekat)
Kelenjar Vasokonstriksi dan sekresi ringan Rangsangan banyak sekali sekresi (mengandung banyak enzim untuk merangsang kelenjar yang mensekresi enzim)
• Nasal
• Lakrimalis
• Parotis
• Submandibularis
• Lambung
• Pankreatik
Kelenjar keringat Banyak sekali keringat (kolinergik) Berkeringat pada telapak tangan atau tangan
Kelenjar apokrin Tebal, sekresi yang berbau Tidak ada
Pembuluh darah Seringkali konstriksi Seringkali memberi sedikit efek atau tidak sama sekali
Jantung
• Otot Pengurangan kecepatan
Peningkatan kekuatan kontraksi Peningkatan kecepatan
Penurunan kekuatan kontraksi (khususnya atrium)
• Pembuluh koroner Dilatasi (β2) : konstriksi (α) Dilatasi
Paru
• Bronkus Dilatasi Konstriksi
• Pembuluh darah Konstriksi sedang Dilatasi
Usus
• Lumen Peningkatan peristalsis dan tonus Penurunan peristalsis dan tonus
• Sfingter Peningkatan tonus (seringkali) Relaksasi (seringkali)
Hati Pelepasan glukosa Sintesa glukogen ringan
Kandung empedu dan saluran empedu Relaksasi Kontraksi
Ginjal Berkurangnya pengeluaran dan sekresi rennin Tidak ada
Kandung kemih
• Detrusor Relaksasi (ringan) Kontraksi
• Trigonum Kontraksi Relaksasi
Penis Ejakulasi Ereksi
Arteriol sistemik
• Vicera abdominal Konstriksi Tidak ada
• Otot Konstriksi (α adrenergik)
Dilatasi (β2 adrenergik)
Dilatasi (kolinergik) Tidak ada
• Kulit Konstriksi Tidak ada
Darah
• Koagulasi Meningkat Tidak ada
• Glukosa Meningkat Tidak ada
• Lipid Meningkat Tidak ada
Metabolisme basal Meningkat sampai 100% Tidak ada
Sekresi medula adrenal Meningkat Tidak ada
Aktivitas mental Meningkat Tidak ada
Otot piloerektor Kontraksi Tidak ada
Otot skeletal Peningakatan glokogenolosis
Peningkatan kekuatan Tidak ada
Sel-sel lemak Lipolisis Tidak ada


BAB IV. PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion. Impuls dapat dihantarkan melalui beberapa cara, di antaranya melalui sel saraf dan sinapsis.
1. Penghantaran Impuls Melalui Sel Saraf
Penghantaran impuls baik yang berupa rangsangan ataupun tanggapan melalui serabut saraf (akson) dapat terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam sel. Pada waktu sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat di bagian luar dan kutub negatif terdapat di bagian dalam sel saraf. Diperkirakan bahwa rangsangan (stimulus) pada indra menyebabkan terjadinya pembalikan perbedaan potensial listrik sesaat. Perubahan potensial ini (depolarisasi) terjadi berurutan sepanjang serabut saraf. Kecepatan perjalanan gelombang perbedaan potensial bervariasi antara 1 sampai dengart 120 m per detik, tergantung pada diameter akson dan ada atau tidaknya selubung mielin. Bila impuls telah lewat maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial istirahat). Untuk dapat berfungsi kembali diperlukan waktu 1/500 sampai 1/1000 detik. Energi yang digunakan berasal dari hasil pemapasan sel yang dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf. Stimulasi yang kurang kuat atau di bawah ambang (threshold) tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik. Tetapi bila kekuatannya di atas ambang maka impuls akan dihantarkan sampai ke ujung akson. Stimulasi yang kuat dapat menimbulkan jumlah impuls yang lebih besar pada periode waktu tertentu daripada impuls yang lemah.
2. Penghantaran Impuls Melalui Sinapsis
Titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain dinamakan sinapsis. Setiap terminal akson membengkak membentuk tonjolan sinapsis. Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi neurotransmitter; yang disebut vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut neuron pra-sinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang membentuk sinapsis disebut post-sinapsis. Bila impuls sampai pada ujung neuron, maka vesikula bergerak dan melebur dengan membran pra-sinapsis. Kemudian vesikula akan melepaskan neurotransmitter berupa asetilkolin. Neurontransmitter adalah suatu zat kimia yang dapat menyeberangkan impuls dari neuron pra-sinapsis ke post-sinapsis. Neurontransmitter ada bermacam-macam misalnya asetilkolin yang terdapat di seluruh tubuh, noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatik, dan dopamin serta serotonin yang terdapat di otak. Asetilkolin kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel pada reseptor yang terdapat pada membran post-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada reseptor menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Bila asetilkolin sudah melaksanakan tugasnya maka akan diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran post-sinapsis. Antara saraf motor dan otot terdapat sinapsis berbentuk cawan dengan membran pra-sinapsis dan membran post-sinapsis yang terbentuk dari sarkolema yang mengelilingi sel otot. Prinsip kerjanya sama dengan sinapsis saraf-saraf lainnya. Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf. Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor.
3. Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek, sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu. Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis). Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan “nervus vagus” bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum sambung.
4. Sistem saraf otonom mengontrol aktivitas organ visceral involunter. Sedangkan sistem saraf simpatis dan parasimpatis bersama-sama mempersarafi sebagian besar organ visceral.


DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C. dan Hall, John E. 1997. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN. Edisi 9.
Jakarta: EGC.
Ganong, W. F. 2005. Buku Ajar FISIOLOGI KEDOKTERAN. Edisi 22. Jakarta: EGC.
Dienhart, Charlotte. 1979. Basic Human Anatomy and Physiology. Philadelphia: The Curtis
Center Independence Square West.
Guyton, Arthur C. dan Hall, John E. 1983. Buku Teks FISIOLOGI KEDOKTERAN Bagian 2.
Edisi 5. Jakarta: EGC.
Kahle, Werner. 1999. Atlas Berwarna & Teks Anatomi Manusia, SISTEM SARAF DAN ALAT-
ALAT SENSORIS, Jilid 3, Edisi 6 yang Direvisi. Jakarta: Hipokrates.
ga da satu pun kata yang dapet terucap..
ga da satu pun rasa yang dapat melukisakan..
"Oh..tiada yang hebat dan mempesona
Ketika kau lewat di hadapanku
Biasa saja...
Waktu perkenalan lewatlah sudah
Ada yang menarik pancaran diri
Terus mengganggu
Mendengar cerita sehari-hari
Yang wajar tapi tetap mengasyikkan
Kini terasa sungguh
Semakin engkau jauh
Semakin terasa dekat
Akan ku kembangkan
Kasih yang kau tanam
Di dalam hatiku
Oh, tiada kejutan pesona diri
Pertama kujabat jemari tanganmu
Biasa saja...
Masa pertalian terjalin sudah
Ada yang menarik bayang-bayangmu
Tak mau pergi
Dirimu nuansa-nuansa ilham
Hamparan laut tiada bertepi
Menatap nuansa-nuansa bening
Tulusnya doa bercinta"
[Seperti lagu ini awal ku mengenalmu,,awal ku putuskan tuk cintaimu..]
"Mengapa kau bersedih
Saat cinta pergi
Biarlah saja, bila semua harus terjadi
Hidup bukan sampai disini
Waktu terus berjalan
Yakinlah ada bahagia
Yang akan kau rasa dalam hidupmu
Dan tersenyumlah sayang
Lepas semua pedih di hati
Karena cinta masih ada
Dan slalu ada
Oh percayalah
Kadang cinta tak berhati
Sering menyakiti
Tapi cinta yang sejati
Meski tlah pergi
Kan datang lagi
Jangan kau tutup hatimu
Raihlah bahagia hidupmu
Karna cinta pasti ada
Dan slalu ada
Oh percayalah"
[dan lagu ini yang slalu kau dan aku nyanyikan dahulu saat kau dan aku sma2 menderita karna cinta masa lalu..]
"Sedih…
Ku tahu kini perasaanmu…
kepadaku..
Sedih..
Saat kau tak yakin kepadaku..
akan cintaku..
Jalan Berliku takkan membuatku..
Menyerah akan cinta kita..
Tatap mataku dan kau akan tahu..
semuanya yang kurasakan..
Aku bertahan karna ku yakin cintaku kepadamu..
sesering kau coba tuk mematikan hatiku..
takkan terjadi karna ku tahu kau hanya untukku..
aku bertahan ku akan tetap pada pendirianku
sekeras kau coba tuk membunuh cintaku..
dan aku tahu kau hanya untukku…"
[lagu ini sLalu terngiang saat aku slalu merasa kita tak mungkin bersama..Kau yang meyakinkan ku..]
"Kau yang pertama hadir temani relung jiwa
Dan kau yang tlah menebar pesona dalam setiap suasana
Ooh kasihku ingatlah kau hanya milikku
Tetaplah disini kau terus bersamaku
Temani malam yang berlalu
Kuingin kau ada di sini
Temani diriku warnai malam ini
Oh juwita, dengarkan apa yang kukatakan padamu
bukanlah bualan atau sebuah angan-angan
Oh ingin hasratku kau tetap di sini untukku
Bukan hanya sekedar di dalam mimpi
Seperti yang ada selama ini"
[dan lagu ini sLalu berdenging di telinga saat tengah malam aku terhenyak dan merindukanmu di sini..]
"tlah kudapati kau tak perlu bermanis didepanku
jgn kau tutupi dan coba berlari
aku, kata suaramu isyaratku terhempas disini
rapuhnya sikapmu
hapus janji tuk tetap seiring
dlm sepi
tujulah tempat yg terbaik bagimu
jika ku sudah tak lagi dihatimu
dan percayalah hanya bahagiamu
hanya bahagiamu membuatku tersenyum hingga hari ini
waktu berlalu bagai kisah yg indah
hingga setiap detik begitu berarti
takkan kulupakan kenangan ku bersamamu
buatku tersenyum hingga hari ini "
[dan mGkn ini lagu terakhir,,penutup di buletin ku jg lagu ini mGkN yg akan mengahiri relation of us..]

Embryology

TINGKATAN PERKEMBANGAN MANUSIA PRENATAL
 Zigot: sel tunggal hasil fertilisasi
 Morula: sel bentuk bola kompak (16-32 sel).
 Blastosit/ blastula
 Gastrula
 Embrio: perkembangan sejak minggu ke-2 sampai minggu ke-8.
 Fetus: perkembangan sejak minggu ke-9 sampai lahir.
ZIGOT - MORULA
 Kira-kira 1 hari setelah fertilisasi, zigot membelah secara cepat (cleavage).
 Hasil cleavage: blastomer.
 Membentuk struktur seperti bola > 16 sel (morula, mirip mulberry).
 Terbentuk lubang dan terisi cairan pada bagian tengah bola (blastokista).
 Kumpulan sel dalam bola (inner cell mass) akan membentuk embrioblas, sedangkan outer cell mass akan menjadi trofoblas.
BLASTOSIT/ BLASTULA
 Blastokista menempel pada endometrium (implantasi) pada 1 minggu kehamilan.
 Trofoblast mensekresikan hormon human Chorionic Gonadotrophin (hCG), yaitu hormon yang memperkuat implantasi.
 hCG dapat dideteksi pada urin atau darah yang mengindikasikan kehamilan.
 hCG mulai meningkat pada 4 minggu kehamilan, mencapai puncaknya pada usia 6 minggu, dan mulai menurun setelah usia 8 minggu.
Contoh gambar :





Pertumbuhan cakram mudigah
 Cakram mudigah yang mula-mula rata dan bundar, jadi memanjang. Perluasan terutama pada daerah kepala.
 Terjadi invaginasi sel-sel permukaan di garis primitif ke depan dan lateral hingga minggu ke-4. Garis primitif mulai hilang.
 Embrio berkembang secara sefalokaudal.
 Diferensiasi lapisan germinal pada minggu ke-3 sampai ke-4.
Cakram Mudigah Minggu Ke-1
 Blastokista sebagian terbenam dalam stroma endometrium.
 Trofoblas ® sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas
 Mitosis terjadi di sitotrofoblas.
 Embrioblas ® lapisan hipoblas dan epiblas.
 Muncul rongga kecil dalam epiblas ® rongga amnion. Sel-sel yang dekat epiblas disebut amnioblas dan bersama sisa epiblas lainnya melapisi rongga amnion.
 Stroma tampak edematus dan sangat vaskular. Kelenjar-kelenjar besar yang berkelok-kelok mengeluarkan banyak glikogen dan mukus
Cakram Mudigah Minggu ke-2
 Kadang-kadang terjadi perdarahan pada implantasi.
 Terbentuk villi primer.
 Mesoderm ekstraembrional yang melapisi sitotrofoblas disebut lempeng korion.
 Tangkai penghubung (tali pusat) ® penghubung mesoderm ekstraembrional melintasi rongga khorion.
Contoh gambar :


GASTRULA - EMBRIO
 Selama minggu ke-2 perkembangan embrio, terbentuk amniotic cavity (rongga amnion) di antara inner cell mass dan lapisan terluar dari endometrium.
 Inner cell mass terbagi atas 2 lapisan: ektoderm & endoderm. Ektoderm terletak dekat amniotic cavity, sedangkan endoderm dekat blastocyst cavity. Dilanjutkan dengan pembentukan lapisan tengah (mesoderm) ® Gastrula (3 primary germ layers) ® embrio
Cakram mudigah trilaminer (minggu ketiga)
 Gastrulasi: dimulai dengan pembentukan primitive streak (garis primitif) pada epiblas.
 Muncul lapisan baru di antara epiblas dan hipoblas. Invaginasi ® mesoderm dan endoderm. Sel-sel yang tetap di epiblas membentuk ektoderm.
 Semakin banyak sel yang menyusup masuk, mereka menyebar ke arah lateral dan kepala.
LAPISAN GERMINAL


EKTODERM
 Epidermis kulit & derivat epidermal: rambut, kuku, kelenjar-kelenjar pada kulit, lapisan pada oral, nasal, anal, dan rongga vagina.
 Jaringan syaraf dan organ-organ perasa (sensorik).
 Lensa mata, enamel gigi.
 Kelenjar hipofisa.
 Medula adrenal
MESODERM
 Otot : halus/ polos, rangka/ lurik, jantung
 Jaringan ikat: embrionik, dewasa, tulang rawan, tulang, dan darah.
 Lapisan dermis kulit dan lapisan dentin gigi.
 Epitel pembuluh darah, pembuluh limfe, rongga tubuh, dan rongga persendian/ persambungan.
 Organ reproduksi dalam.
 Ginjal dan ureter.
 Korteks adrenal.
ENTODERM/ ENDODERM
 Epitel farinks, saluran pendengaran, tonsil, tiroid, para tiroid, timus, larinks, trakea, paru-paru, saluran pencernaan, vesika urinaria, uretra, dan vagina.
 Hati dan pankreas.
Garis primitif dan neurula


Cakram Mudigah Minggu ke-4 sampai ke-6
 Sebagian sel embrio membentuk struktur lengkung faring ® muka, mulut, rongga hidung, laring, faring.
 Terbentuk struktur anggota badan (jari tangan dan kaki), tali pusat, sistem sirkulasi, bagian-bagian pada kepala
Embrio manusia minggu ke-5


Minggu ke-8
 Sudah dapat dibedakan embrio manusia dengan bukan manusia.
 Tangan dan kaki terbentuk sempurna, jari-jari tepisah.
 Jaringan-jaringan primordial internal-eksternal berkembang dengan baik.
 Ekor menghilang.
Contoh gambar :

EMBRIO
 Terbungkus dalam dua membran: amnion (membran dalam) dan khorion (membran luar).
 Kantung amnion berisi liquor amnii (cairan amnion) yang berfungsi memberi tekanan ke semua jurusan, melindungi fetus, memungkinkan fetus bergerak bebas dan tumbuh secara seimbang.
 8 minggu pertama khorion berhubungan langsung dengan darah ibu.
Perkembangan embrio


FETUS
 Selanjutnya, kantung amnion melebar mengisi rongga uterus dan villi khorionik berkembang menjadi plasenta.
 Minggu ke-12: semua organ terbentuk.
 Minggu ke-17: gerakan fetus dapat dirasakan ibu (panjang 16 cm, berat 7 ons)
 Minggu ke-28: fetus sudah mampu hidup berpisah dari ibu/ prematur (panjang 27,5 cm, berat 2,3 kg).
 Minggu ke-40: melahirkan aterm, BB = 2,7 – 3,6 kg dan panjang + 50 cm.
Perkembangan fetus manusia bulan ke-4 dan ke-7



TRILAMINARY GERM DISC
Berawal dari embrional disc yg terbagi menjadi 2 bagian yaitu : ektoderm dan endoderm yang kemudian bagian endoderm mengalami diferensiasi sehingga terbentuk 3 bagian yaitu: ektoderm,endoderm,dan mesoderm (terletak di tengah).
Mesoderm akan meluas diantara ektoderm dan endoderm di kanan kiri yang dipishakan oleh notochord di tengahnya.
Sehingga mesoderm menjadi dua somit yang berpasangan.







NEURAL CREST
Notochord menginduksi ektoderm di atasnya sehingga berpoliferasi menjadi lempeng saraf (neural plate).Neural plate melipat (neural fold) yang kemudian menjadi alur saraf (neural groove).Neural fold akan meninggi (neural crest) dan menyatu sehingga terbentuk tabung saraf (neural tube).
Saat pembentukan tabung saraf (neural tube),sel-sel neural crest akan terpisah dan akan bermigrasi jauh dari neuro ektodermal.Neural crest akan menjadi lokasi yang dituju kemudian berdiferensiasi menjadi sel-sel ganglia spinalis dan otot otonom,dll.Mesensim yang berasal dari neural crest disebut ektomesensim.
















Neural Crest berfungsi untuk menjadi sesuai dngan yang dituju..Dapat berdiferensiasi menjadi saraf,ganglia ANS,otot polos,lurik dan otot jantung, chondrocytes, osteocytes, melanocytes,sel penyokong dan sel penghasil hormon di organ yang

kangen

uh....
kangen dy....